Universitas Simalungun
 
 
 

Berita > Sains

SEMINAR PEMAKAIAN BUSANA SIMALUNGUN MENJAGA KEARIFAN LOKAL

Rabu, 08 November 2017 | 13:05:16 WIB


 USI Gelar Seminar Budaya Bertujuan Menjaga Kearifan Budaya Lokal 
Perkembangan zaman yang terus didandani dengan sejumlah modifikasi masa kini, membuat perubahan-perubahan yang signifikan, dan itu berimbas juga pada pelaksanaan adat atau budaya khususnya busana dari sejumlah suku atau eknis, termasuk didalamnya adalah Batak Simalungun. Dan seharusnya kearifan lokal budaya itu dijaga semua generasi. Hal itu ditekankan dalam seminar pemakaian busana Simalungun  menjaga kearifan lokal, di Aula Pascasarjana Universitas Simalungun (USI), Kamis (15/12) Kampus USI Pematangsiantar yang diikuti oleh 150 orang peserta berasal dari tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan cendikiawan.
Drs. Hisarma Saragih, M.Hum selaku ketua panitia menjelaskan dalam laporannya bahwa  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara yang penduduknya beraneka ragam suku bangsa. Diantara suku bangsa tersebut adalah suku Simalungun. Suku Simalungun memiliki pakaian yang disebut hiou/ulos dengan berbagai coraknya. Hiou pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan, ujarnya.
Secara legenda hiou dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain api dan matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja. 
Suku Simalungun memiliki kebiasaan "mambere hiou" yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima hiou. Hiou dapat dikenakan dalam berbagai bentuk sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain. 
Hiou dalam bagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya Hiou penutup kepala wanita disebut bulang, Hiou penutup badan bagian bawah bagi wanita misalnya ragi panei, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Hiou dalam pakaian pengantin Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut tolu sahundulan, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (abit), beber Hisarma.
Menunrt Muhar Omtatok, awalnya gotong (penutup kepala pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut gotong porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian orang Simalungun dewasa ini suka memakai gotong berbentuk tengkuluk batik.
Masih kata Hisarma, adanya fenomena tentang busana Simalungun yang mempunyai dinamika di tengah-tengah masyarakat Simalungun perlu mendapat kajian, dimana Universita Simalungun sebagai institusi pendidikan tinggi merasa memiliki tanggungiawab untuk menjawab fenomena busana Simalungun melalui Seminar Sehari ini.
Hisarma juga berharap melalui kegiatan seminar ini, seluruh peserta akan memiliki persepsi yang sama perihal filosofi dan sejarah busana Simalungun serta mengetahui dengan jelas jenis-jenis busana Simalungun dan mengimplementasikan penggunaannya
dalam lingkup masyarakat Simalungun sebagaimana mestinya.
Sementara itu, Prof. Marihot Manullang selaku Rektor USI dalam sambutannya berharap kegiatan ini memberikan manfaat yang banyak tentang kajian budaya Simalungun khususnya Universitas Simalungun, sehingga kami dapat melangkah dan melaksanakan dalam korider ilmiah dalam pemakaian busana Simalungun.
Dr. Polentyno Girsang, salah satu Pembina Yayasan USI dalam sambutannya menyampaikan bahwa ide pelaksanaan seminar budaya Simalungun muncul disela-sela rapat Pembina yang dilatarbelakangi perkembangan sosial budaya atas komentar-komentar masyarakat Simalungun atas pakaian adat di beberapa media terutama media social, yang ditenggarai dapat menimbulkan polemik.
Untuk itu katanya, Pembina Yayasan USI mencoba mengantisipasi hal-hal yang mungkin timbul atas polemik yang negatif dengan memutuskan untuk dilaksanakan seminar budaya Simalungun di USI secara berkelanjutan.
“Kenapa di USI”?, Polentyno menjelaskan bahwa kalau USI pelaksana, maka semua produk seminar budaya yang dikeluarkan akan muncul produk akademis, dimana para ahli akan bicara dengan data-data yang otentik serta mendukung.
Masih kata Polentyno, perwujudan seminar hari ini, sangat diapresiasi, untuk it terima kasih kepada Rektor dan jajarannya, dan berharap kepada peserta yang hadir diajak untuk pro aktif memberikan kontribusi dalam rangka menghasilkan kesimpulan secara akademis.
Salah satu narasumber, Drs. Setia Dermawan Purba, M.Si mengatakan busana Simalungun tidak sekedar pakaian yang berfungsi menutup aurat saja, tetapi memiliki nilai estetis dan sebagai lambang yang berkaitan dengan ide-ide dan perilaku masyarakat Simalungun. Dalam paparannya, busana Simalungun sedikitnya memiliki 6 ciri. Pertama, penyebaran Simalungun biasanya dilakukan secara lisan (tradisi lisan). Kedua, bersifat tradisional yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Ketiga, busana Simalungun ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda-beda.
Keempat, Busana Simalungun bersifat anonim, artinya nama penciptanya tidak diketahui orang lagi. Kelima, busana Simalungun mempunyai fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif dan keenam, busana Simalungun adalah milik bersama dari suatu kolektif.
Dalam makala yang dibagikan kepada peserta, Dr. Erond L Damanik, M.Si yang juga sebagai narasumber, menuliskan, transformasi ini terjadi secara berangsur-angsur karena adanya pengaruh dari luar (eksternal) maupun dalam internal kepada suatu bentuk yang baru dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses pengulangan. 
Menurut Dr. Erond sesuai kutipannya dari Habreken, bahwa adapun faktor-faktor transformasi itu meliputi kebutuhan identitas diri sehinggal dikenal orang lain. Perubahan juga muncul dari gaya hidup, perubahan struktur dalam masyarakat, pengaruh kontak dengan budaya lain dan munculnya penenun-penenun baru mengenai manusia dan lingkungannya serta impak teknologi baru berupa timbulnya perasaan ikut mode atau trend of fashion. Secara katagori, transformasi dapat bersifat tipologis, yakni perubahan bentuk dengan komponen dan fungsi yang sama. Kemudian gramatikal ornamental yakni perubahan dengan menggeser, memutar atau mencerminkan. Ada juga refersal yaitu pembalikan citra atau figur yang ditransformasi dimana citra objek menjadi citra sebaliknya.
Hal lain yang memberikan pengaruh atas bergesernya nilai khas atau kultur budaya lama dari yang sejatinya adalah distorsi yakni perubahan karena kebebasan desainer dala beraktifitas. Karena itu, transformasi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan terjadi sejalan dengan perubahan teknologi maupun trend fashion. Dicontohkan, perubahan busana Simalungun terjadi yaitu gotong lampei dan bulang lampei. Ini mulai berubah berubah sejak tahun 1964. Busana gotong misalnya, bertransformasi dari gotong lampei menjadi gotong daster (berbentuk tegak lurus) yang digunakan menutup kepala.
Menurut Erond, sah-sah saja memodifikasi busana tradisional guna menambah estetika dan kewibawaan pemakainya. “Tetapi yang perlu diingat adalah jangan pula upaya komodifikasi ini menghilangkan nilai-nilai sakralitas busana tradisional itu, karena dibutuhkan upaya-upaya atau bahkan regulasi yang membolehkan dan melarang atribut kultural ini kepada publik,” terangnya.
Drs. Karmidin C. Sinaga, mengatakan  batak Simalungun merupakan suatu etnis tertua di Sumatera Utara. Itu terbukti dari peradaban yang cukup tinggi dan dilihat dari benda-benda peninggalan sejarah, situs sejarah, artepak, museum dan lainnya. Dan dari literatur bahwa kerajaan tertuan di Simalungun adalah Kerajaan Nagur yang dipimpin Raja bernama Nagur yang berasal dari Nageri India yakni India Selatan. Pusat kerajaannya ada di Kabupaten Simalungun. “Menurut catatat sjarah, kerajaan berdiri dan mulai bangkit sejak abab ke 6, dan mengalami kejayaan hingga abab ke 15 yakni sekitar 1500 tahun yang lalu, secara turun temurun. Generasi paling akhir menduduki tahta kerajaan adalah Raja Siantar yaitu Sangnaualuh Damanik yang diangkat sejak tahun 1886,” jelasnya sesuia makala yang dibagikan.
Dari paparan yang disampaikan narasumber serta makalah pembanding dari Pdt. Juandaha Purba, S.Th dan Drs. Karmidin C. Sinaga, serta argument-argumen yang diutarakan peserta dan narasumber, maka tim perumus yang diketua oleh Ir, Janerson Girsang, berhasil menghimpun dan merumuskan rumusan seminar dimaksud.
Menurut Jannerson Girsang, berdasarkan arahan Pembina Yayasan USI dan Pidato Rektor USI dalam usaha meningkatkan pemahaman dan persepsi yang sama perihal filosofi  dan sejarah busana Simalungun, jenis-jenis busana Simalungun  dan implementasi dalam lingkup Universitas Simalungun maka  seminar sehari “Pemakaian Busana Simalungun Menjaga Kearifan Lokal”  menghasilkan rumusan seminar tersebut atas 9 point dimana 5 point untuk public dan 4 point khusus untuk Yayasan dan Universitas Simalungun.
Untuk konsumsi public kata Jannerson, Pertama, busana Simalungun lahir dari kearifan lokal orang Simalungun sejak jaman dahulu kala dan merupakan salah satu ciri khas suku Simalungun, yang berfungsi biologis, psikologis dan sosial. Busana ini lahir di tengah masyarakat Simalungun dan bukan impor. 
Kedua, busana Simalungun terbagi dalam busana kebesaran  adat dan komodifikasi adat yang memerlukan pemisahan yang jelas sehingga dalam pelaksanaanya mengikuti filosofi  dan maknanya. Ketiga, semua jenis pakaian adat Simalungun yang ada sekarang merupakan komodifasi dari pakaian adat yang dikenakan oleh para  nenek moyang orang Simalungun. Busana itu bervariasi menurut kerajaan-kerajaan dan  daerah masing-masing. Keempat, jenis dan pemakaian busana Adat Simalungun bervariasi menurut daerah dan bekas kerajaan di Simalungun. Variasi ini merupakan kekayaan, namun memerlukan unisitas sesuai dengan hasil Seminar Kebudayaan Simalungun 1964 dan Kelima, perlu ada dasar hukum dalam pemakaian busana Simalungun  dalam bentuk PERDA.
Sedangkan untuk Yayasan ataupun Universitas Simalungun, masih kata Janerson, Pertama khusus di lingkungan Universitas Simalungun (USI), pemberian penghormatan busana adat Simalungun yang lengkap  (hiou/ulos, gotong, suri-suri dan aksesorisi) kepada orang yang dinilai layak, diserahkan oleh Pembina, Yayasan dan Rektor dan yang menyerahkan harus berpakaian adat Simalungun lengkap. Kedua, pemberian penghormatan berupa kado (hanya salah satu dari poin di atas, hiou atau suri-suri sebagai pamonting) dapat diberikan oleh Rektor/Pengurus Yayasan. Ketiga, sejalan dengan perkembangan zaman dan interaksi suku Simalungun dengan dunia luar, maka Yayasan USI dan Rektor Universitas Simalungun perlu melakukan sosialisasi, dan kajian akademis tentang jenis dan pemakaian busana Simalungun secara berkelanjutan. Keempat, sivitas akademika USI disarankan agar mememakai busana Simalungun corak pinar (ornament Simalungun) pada hari-hari kerja yang ditetapkan kemudian oleh Rektor Universitas Simalungun bekerjasama dengan Yayasan USI. Diakhir  pembacaan hasil rumusan, Ir. Janerson Girsang didampingi sekretaris tim perumus Sarintan E. Damanik, M.Si menyerahkan hasil rumusan kepada ketua dan sekretaris panitia.
 



Website Security Test